Selasa, 17 Februari 2015

Cara Membuat Tumis Bunga Pepaya Ikan Cakalang

Pepaya tidak hanya bisa dinikmati buah dan daunnya saja dalam sebuah hidangan, bunganya pun dapat dijadikan menu makanan yang sangat lezat. Apalagi jika dicampur dengan ikan cakalang, tentu saja akan sangat menggugah selera setiap orang sehingga membuat nafsu makan bertambah. Nah, hidangan yang berbahan dasar bunga pepaya ini juga sangat tepat disajikan untuk makan siang Anda.

Berikut resep membuat tumis bunga pepaya ikan cakalang yang lezat.

Bahan:

    500 ml air
    300 gr bunga pepaya, dibersihkan
    2 sdm minyak untuk menumis
    5 buah bawang merah, diiris halus
    3 siung bawang putih, memarkan dan cincang halus
    2 buah cabe merah, buang bijinya iris hingga halus
    5 buah cabe rawit, iris halus
    1 lembar daun pandan wangi, iris serong kasar
    100 ml air
    60 gr ikan cakalang
    1/4 sdt merica bubuk
    garam secukupnya

Cara membuat:

    Didihkan air bersama garam
    Masukkan bunga pepaya, rebus bunga pepaya hingga lunak, angkat dan ditiriskan
    Panaskan minyak, tumis bawang merah dan bawang putih hingga harum
    Masukkan daun bawang, cabe merah, cabe rawit dan daun pandan sambil diaduk hingga layu
    Tuangkan air dan masak sampai mendidih
    Masukkan bunga pepaya, ikan cakalang, garam dan merica, masak sambil diaduk sampai matang dan bumbu meresap kemudian angkat.

Tips:

Agar bunga pepaya tidak terasa pahit, caranya adalah dengan merebus selama satu jam dengan garam hingga berubah warna menjadi kecokelatan.

"Setelah matang, direndam dengan air dingin, kemudian disaring. Dan satu lagi, tangkai bunga pepaya harus dicopot juga agar tidak pahit," jelas Chef Saipudin saat ditemui pada acara Fun Day Kitchen Class bersama Vemale di Kedai Nyonya Bintuni Tebet Jakarta Selatan Sabtu 7 Februari 2015 lalu.

Nah Ladies, cukup mudah bukan memasak bunga pepaya menjadi sajian lezat rumahan? Anda juga bisa mencoba tips bermanfaat agar bunga pepaya tidak pahit seperti di atas. Selamat memasak dan mencoba resepnya.

Kamis, 12 Februari 2015

Desa Zao Kitsune Cocok untuk Petualangan

Suka berpetualang ke tempat-tempat yang dipenuhi oleh hewan liar? Desa Zao Kitsune mungkin bisa masuk dalam daftar petualangan Anda. Desa ini memiliki taman yang dihuni oleh setidaknya lebih dari 100 ekor rubah. Kawanan rubah itu dibiarkan berkeliaran di taman, sehingga siapa pun bisa berinteraksi dengan mereka.

Kitsune sendiri adalah sebutan untuk rubah dalam bahasa Jepang. Hewan ini banyak disebut dalam cerita rakyat dan berbagai mitos Jepang. Rubah kerap dipandang sebagai makhluk yang licik dan cerdik, namun mereka juga dianggap sebagai makhluk yang bijaksana dengan kemampuan sihir dan kekuatan berubah bentuk. Karena rubah memiliki sifat nokturnal, mereka cenderung lebih aktif di malam hari dan lebih sering tidur di siang hari. Sayangnya, Desa Kitsune agak sulit diakses, kecuali jika Anda mengendarai mobil.

Jarak yang ditempuh akan menjadi sekitar 25 menit dari stasiun kereta api terdekat. Jadi, jika Anda dapat menyewa mobil atau memanggil taksi, perjalanan Anda akan terasa lebih menyenangkan. Jenis rubah yang paling terkenal atau yang paling diakui di desa itu adalah rubah merah. Tetapi, total ada enam keturunan rubah berbeda yang hidup di desa tersebut.

Taman yang dihuni oleh kawanan rubah-rubah itu dibuka setiap hari, mulai dari pukul 09.00-16.00 waktu setempat. Namun dari tanggal 10 Januari sampai dengan 18 Maret, taman itu akan ditutup setiap hari Rabu.

Miracle Fruit Alias Buah Ajaib

Tahukah Anda, buah berwarna merah yang sekilas tampak seperti perpaduan antara goji berry dan terong belanda ini bernama miracle fruit alias buah ajaib?

Buah yang masih tergolong dalam beri-berian ini memiliki nama latin Synsepalum dulcificum. Buah tersebut populer di Afrika Barat sejak abad 18.

Buah ini memang 'ajaib'. Dilaporkan situs The Atlantic, buah ini bisa membuat makanan yang memiliki rasa asam dan pahit terasa manis. Coba makan jeruk asam setelah mengunyah buah ajaib ini. Jeruk tersebut akan terasa manis.

Hal ini disebabkan karena kandungan miraculin dalam buah tersebut. Miraculin bisa mengaktifkan saraf lidah yang peka terhadap rasa manis.

Buah ini tengah dilirik sebagai alternatif pemanis bagi orang-orang yang membatasi asupan gula. Sekarang buah ajaib bahkan telah diolah menjadi tablet. Walaupun begitu, hingga saat ini penelitian mengenai kemungkinan efek samping dari miraculin dalam buah ajaib masih belum tuntas.

Anda berminat untuk mencoba buah ini? Siapa tahu bisa digunakan untuk mengakali si kecil agar mau makan sayur dan minum obat.

Pulau Kemaro

Pernahkah Anda mendengar tentang Pulau Kemaro? Kemaro merupakan sebuah pulau mungil yang terbentuk di endapan Sungai Musi. Dilaporkan situs Wonderful Indonesia, pulau tersebut dinamakan Kemaro yang berarti 'kemarau' karena senantiasa kering.

Di pulau ini tersebar bangunan-bangunan bernuansa budaya Tionghoa. Namun bangunan yang paling terkenal adalah Kelenteng Hok Tjing Rio dan sebatang pohon cinta yang dipercaya bisa memberikan keberuntungan dalam asmara.

Pulau tersebut berkaitan erat dengan legenda cinta tragis antara putri raja Sriwijaya, Siti Fatimah dan Tan Bun Ann, pangeran dari negeri Tiongkok.

Konon orangtua Siti Fatimah meminta barang berharga sebagai mahar pernikahan dari Tan Bun Ann. Sang pangeran lantas meminta kiriman emas dan restu pada orang tuanya dari China. Dikirimkanlah beberapa peti berisi barang-barang berharga yang ditutupi sayuran dan buah-buahan awetan agar tidak dicuri perompak. Melihat peti berisi sayuran, Tan Bun An merasa kecewa dan membuang peti itu ke Sungai Musi.

Ketika peti terakhir pecah, barulah ia mengetahui adanya uang dan emas di balik sayur-sayuran itu. Lantas ia pun terjun ke sungai untuk memunguti maharnya. Namun ia justru tenggelam tanpa sempat mempersembahkan hadiah tersebut kepada pujaannya.

Mendengar calon suaminya tewas, Siti Fatimah pun ikut terjun ke sungai. Sebelum itu, dia dia sempat berkata, "Jika sebuah pohon tumbuh pada sebidang tanah di tempat aku tenggelam, maka itulah saksi cinta kami".

Tak lama setelah kematian Siti Fatima dan Tan Bun Ann, di Sungai Musi muncul gundukan tanah yang kemudian diyakini sebagai tempat persemayaman terakhir sejoli bernasib tragis tersebut.