Adra Soraya Ramadani

Setelah dilakukan pemeriksaan, Dinas Kesehatan DKI Jakarta akhirnya memastikan Adra Soraya Ramadani (5), negatif flu burung. Adra merupakan adik dari almarhum Puguh Dwi Yanto (23) yang meninggal dunia akibat diduga suspect flu burung.

Awalnya, Adra juga diduga suspect flu burung karena telah melakukan kontak langsung dengan Puguh. Selain itu, Adra juga sempat mengalami gejala yang sama seperti Puguh yakni, menderita demam, batuk dan pilek.

Seperti diketahui, sejak Sabtu (7/1/2012) kemarin, Adra dirawat intensif di ICU khusus pasien flu burung RS Persahabatan Jakarta Timur. "Kondisinya saat ini sudah stabil. Hasil laboratoriumnya juga negatif. Insya Allah cepat sembuh, jika direspon dan ditangani dengan baik," ujar Dien Emmawati, Kepala Dinas Kesehatan DKI di Balai Kota DKI, Senin (9/1/2012).

Dikatakan Dien, pihaknya langsung bergerak cepat dengan melakukan pengambilan sampel darah terhadap 10 orang yang juga diduga telah melakukan kontak langsung dengan almarhum Puguh. Kesepuluh orang itu, lanjutnya, juga langsung diberikan tami flu. Sedangkan untuk sampel baru akan diketahui sekitar satu pekan ke depan.

Untuk mengantisipasi menyebarnya virus H5N1, terhadap warga yang bermukim di Jalan Baru Ancol Selatan RT 10/06 Sunter Agung, Tanjung Priok, dalam waktu hingga dua pekan mendatang akan dilakukan pemantauan oleh Dinas Kesehatan DKI.

"Pemantauan ketat pada warga sekitar dilakukan sejak 7 Januari 2012 sampai dua Minggu ke depan untuk mempercepat deteksi jika ditemukan ada pasien lain yang juga terjangkit virus flu burung," kata Dien.

Menurut Dien, di Jakarta terdapat tiga rumah sakit rujukan untuk penyakit flu burung, yakni Rumah Sakit (RS) Persahabatan, RS Sulianti Saroso dan RSPAD Gatot Subroto. Pada kesempatan itu, Dien juga membenarkan jika korban Puguh sempat ditolak saat dirujuk ke RS Sulianti Saroso karena ruangan ICU sudah penuh. Karenanya, Dien kembali meminta, agar ketiga rumah sakit tersebut memprioritaskan pasien dugaan flu burung untuk mendapat perawatan. Selain itu, pihaknya juga akan meminta tiga kamar dari RS rujukan itu untuk dikosongkan. Sehingga jika tiba-tiba ada korban flu burung maka tidak ada alasan kamar penuh.

"Kalau perlu akan kita booking fee untuk kamar. Pada ABT (Anggaran Biaya Tambahan) kami akan minta ambulan khusus flu burung, yang dilenglapi dengan ventiletor. Kesemua pasien ditanggung dengan JPK-Gakin dan gratis," tegas Dien.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan DKI, tiap tahunnya, kasus flu burung terus menurun. Selama 2009 dari 10 pasien suspect flu burung, 8 pasien meninggal dunia. Sementara pada 2010 jumlahnya menurun menjadi 3 pasien, namun ketiganya meninggal dunia. Kemudian pada 2011 dari 3 pasien, 2 pasien meninggal dunia.

0 Response to "Adra Soraya Ramadani"

Poskan Komentar