Istilah Holiday Blues

Liburan natal dan tahun baru telah di depan mata. Namun, belum tentu semua orang merasa gembira menyambut liburan panjang ini. Tak semua orang menantikan datangnya bulan Desember.

Musim liburan yang membuat Anda tidak ceria bisa terjadi karena banyak hal. Misalnya, baru saja merasa kehilangan seseorang, merasa tidak memiliki keluarga, merasa kesepian, baru saja menghadapi perceraian, hingga makan dan minum yang tidak sehat.

Ini bisa membuat seseorang depresi, suasana hati yang buruk, dan selalu berpikiran negatif pada musim liburan. Hal ini dikenal dengan istilah holiday blues.

Sebenarnya, apa saja faktor yang menyebabkan Anda mengalami holiday blues dan bagaimana cara mengatasinya? Berikut faktor penyebabnya yang harus Anda hindari agar tidak mengalami holiday blues.

Mengharapkan sesuatu yang tidak realistis
Berharap mendapat liburan yang sempurna hanya akan menimbulkan rasa kecewa dan membuat seseorang depresi. Dokter Mark Sichel, seorang psikiater yang juga penulis Healing From Family Rifts mengatakan,  banyak orang memiliki fantasi liburan menyenangkan seperti yang mereka lihat di televisi.

Selain itu, sering kali terjadi perselisihan keluarga pada waktu liburan. Menurut Sichel, konflik keluarga atau baru saja kehilangan orang yang dicintai dapat menambah kesedihan selama liburan. Sichel sendiri mengaku banyak menerima pasien yang berkonsultasi setelah liburan usai.

Untuk mengatasi itu semua, kuncinya adalah bersyukur. Syukuri hal-hal yang sudah berhasil Anda dapatkan. Bersyukurlah ketika anggota keluarga masih dapat berkumpul meski tidak lengkap. Bersyukur Anda bisa mendapat libur dari pekerjaan.

"Memiliki rasa syukur mungkin menjadi penangkal terbaik terhadap depresi,” kata Sichel seperti dikutip dari huffingtonpost.com.


Terlalu banyak keinginan dan melakukan banyak hal
Menginginkan banyak hal, merencanakan ini dan itu agar liburan terasa sempurna bisa membuat Anda depresi, cemas, stres, dan kurang tidur. Hal ini dapat membuat suasana hati Anda buruk selama liburan.

Menurut Sichel, hal itu juga dapat menimbulkan rasa takut jika tidak mendapatkan apa yang diinginkan dan membuat tekanan darah tinggi yang menjadi pemicu paling umum untuk Holiday Blues.

"Banyak orang merasa mereka tidak bisa melakukan banyak hal dengan benar dan merasa anggota keluarga akan kecewa," kata Sichel.

Membandingkandengan kebahagiaan orang lain
Jangan membandingkan Hari Natal atau liburan Anda dengan orang-orang di sekitar Anda. Jangan merasa keluarga Anda kurang sempurna dan hilangkanlah trauma masa lalu. Hal itu hanya dapat membuat Anda tambah sedih.

Anda akan merasa selalu paling buruk dibanding orang lain. Padahal, mungking banyak orang-orang yang tidak lebih beruntung dari Anda.


Malasmenjaga kesehatan
Bagi banyak orang, Desember adalah bulan tersibuk sepanjang tahun. Rutinitas mengikuti kelas yoga, jalan pagi, konsumsi makanan sehat, meditasi, bisa menjadi terbengkalai karena kesibukan jelang liburan natal dan tahun baru.

Sichel pun mengingatkan agar orang-orang tetap menjaga pola makanan sehat selama liburan. "Jaga dirimu, jangan makan berlebihan dan minuman buruk yang berlebihan," kata Sichel.

Sichel menyayangkan jika selama liburan minuman berakohol menjadi favorit. Ia menekankan pentingnya menghindari pesta minuman keras selama liburan panjang. Ia menegaskan, alkohol juga tidak akan mengurangi rasa sedih seseorang, melainkan hanya dapat memperburuk gejala kecemasan dan depresi.

Mengalami gejala Seasonal Affective Disorder
Jika Anda merasa sedih hanya pada musim tertentu, mungkin Anda mengalami Seasonal Affective Disorder (SAD).

Menurut Sichel, banyak orang yang berpikir bahwa mereka mengalami holiday blues, padahal menderita SAD. SAD adalah depresi yang hanya terjadi pada musim tertentu setiap tahunnya. Jika depresi berlangsung lama, konsultasilah ke psikolog ata psikiater.

Intinya, hindarilah depresi saat liburan yang hanya akan membuat jiwa dan raga Anda tidak sehat. Bersyukur, berpikiran positif, dan tertawa adalah kunci menghindari depresi.

0 Response to "Istilah Holiday Blues"

Poskan Komentar